Minggu, 15 Juni 2014

Kisah Orang yang Mengejek Siwak

Dahulu, hidup seorang laki-laki yang dijuluki Abu Salamah. Dia berasal dari daerah Bushro. Dia suka berkelakar dan berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Suatu hari, disebutkan kepada Abu Salamah tentang siwak dan keutamaan-keutamaannya, akan tetapi ia malah berkata: "Demi Allah, aku tidak akan bersiwak kecuali di dubur!" Lalu dia mengambil sebuah siwak dan memasukkan siwak itu ke duburnya kemudian mengeluarkannya lagi.

Maka setelah ia melakukan perbuatan tersebut, Abu Salamah menderita sakit perut dan dubur. Dia mengeluh kesakitan selama sembilan bulan. Lalu keluarlah dari duburnya seekor hewan seperti tikus mondok yang pendek dan besar, memiliki empat kaki, kepalanya seperti kepala ikan. Hewan itu memiliki empat taring yang tampak menonjol, panjang ekornya satu jengkal empat jari, dan memiliki dubur seperti dubur kelinci.

Tatkala keluar, hewan itu menjerit tiga kali, lalu bangkitlah anak perempuan Abu Salamah dan memecahkan kepala hewan itu hingga mati.

Setelah keluar hewan dari duburnya, Abu Salamah hidup selama dua hari dan mati pada hari ketiga. (Sebelum mati) Abu Salamah berkata: "Hewan ini telah membunuhku dan memotong-motong ususku."

Sungguh kejadian ini telah disaksikan oleh sekelompok penduduk daerah tersebut dan para khothib tempat itu. Di antara mereka ada yang melihat hewan itu dalam keadaan hidup dan dia antaranya ada yang melihatnya setelah mati.

(Sumber: Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobiy menukil dari Al Bidaayah wan Nihaayah karya Ibnu Katsir)

Sabtu, 14 Juni 2014

Karena Kesombongan

Suatu ketika, ada seseorang yang makan di sebelah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam. Orang itu makan dengan tangan kiri. Maka beliaupun menegurnya: "Makanlah dengan tangan kananmu!"

Orang tersebut menjawab (dengan sombong): "Aku tidak bisa (makan dengan tangan kanan)." Beliau bersabda: "Kamu pasti tidak akan bisa."

Orang itu tidak mau makan dengan tangan kanannya, tidak lain dikarenakan rasa sombong. Maka orang tersebut akhirnya benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya!

(Sumber: HR Al-Bukhari 1411 dan Muslim 1392)

Lihatlah akibat dari menolak sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, apalagi dengan kesombongan. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam telah melarang seseorang makan dengan menggunakan tangan kiri, maka makanlah dengan tangan kanan!

Pasukan Perang Yang Kelaparan

Pada saat perang tabuk, para sahabat tertimpa kelaparan. Para sahabat berkata kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam: "Jika engkau ijinkan, kami akan menyembelih onta agar kami bisa makan dan menggunakan lemaknya." Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam lantas bersabda: "Lakukanlah!"

Akan tetapi Umar tidak setuju. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, jika kamu ijinkan (menyembelih onta) maka tunggangan akan semakin sedikit. Sebaiknya engkau panggil saja mereka untuk mengumpulkan sisa bekal mereka, lalu engkau berdoa agar Allah memberkahi, niscaya Allah akan memberkahi makanan mereka." Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Baiklah."

Lalu beliau meminta alas dari kulit, kemudian beliau hamparkan. Beliau memanggil para sahabat, agar mengumpulkan sisa bekal mereka di atas alas tersebut.

Maka datanglah para sahabat. Ada yang membawa segenggam jagung, ada yang membawa segenggam kurma dan ada juga yang membawa remahan roti. Makanan yang sangat sedikit itu terkumpul di atas alas kulit tersebut. Lalu Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam mendoakan barokah makanan itu seraya bersabda: "Ambillah (makanan ini), dan masukkan ke tempat makanan kalian!"

Para sahabatpun mengambil dan memasukkan makanan itu ke dalam tempat makanan mereka, hingga penuhlah semua tempat makanan. Mereka semua makan hingga kenyang, bahkan makanan itu masih ada sisanya.

Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda: "Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan aku bersaksi, bahwa aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba yang menemui Allah dengan kedua kalimat tersebut tanpa ragu, kemudian dia terhalang masuk al-jannah (sorga)".

(Sumber: Shohih Muslim no. 27)

Hati Kambing Yang diberkahi

Suatu ketika, 130 orang sahabat sedang berkumpul bersama Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam. Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Apakah diantara kalian ada yang memiliki makanan?" Ternyata ada satu orang sahabat yang memiliki gandum, jumlahnya sekitar 1 sho'. Lalu gandum itu dibikin adonan.

Kemudian datanglah seorang laki-laki musyrik berambut kusut, terurai, dan berbadan tinggi. Si musyrik itu membawa kambing beberapa ekor. Ia ingin menjual kambingnya. Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada si musyrik: "Kambingmu ini dijual atau akan engkau hadiahkan?" Laki-laki itu menjawab: "Kambing ini tidak dihadiahkan, tapi dujual!"

Beliau pun lantas membeli seekor kambing dari orang itu. Kambing itu disembelih kemudian diolah. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar hati kambing itu dipanggang.

Ternyata, 130 orang sahabat itu mendapat bagian potongan hati kambing yang dibagikan oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam. Sahabat yang sedang bersama beliau, langsung beliau beri. Yang tidak hadir bersama beliau, disimpan untuknya. Makanan itu dijadikan 2 nampan, lalu para sahabat makan darinya sampai kenyang. Sisa yang masih ada di 2 nampan tersebut lalu dibawa ke atas unta.

(Sumber: Bukhari 5382 & Muslim 2056)

Subhanallah! Allah telah memberkahi hati kambing yang sedikit itu, sehingga bisa mengenyangkan para sahabat yang saat itu berjumlah banyak! Maha Besar Allah.

Minggu, 25 Mei 2014

Tiga orang yang terperangkap dalam gua

Dahulu, pada masa sebelum shohabat Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, ada tiga orang yang kemalaman lalu berlindung ke dalam sebuah gua. Tiba-tiba jatuh sebuah batu yang besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua tersebut, terperangkaplah mereka di dalamnya.

Maka mereka berkata (sesama mereka), "Sungguh, tiada satupun yang dapat menyelamatkan kamu dari bahaya ini. Kecuali jika kamu berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal sholih yang pernah kamu lakukan."

Lalu berkatalah salah seorang dari mereka, "Ya Allah dahulu aku memiliki ayah dan ibu yang sudah tua. Dan sudah biasa aku tidak memberikan minuman susu kepada seorangpun sebelum keduanya. Hingga pada suatu hari aku pulang terlambat, karena mencari kayu. Dan aku temui kedua orangtuaku sudah tidur. Maka aku enggan untuk membangunkan keduanya, dan aku juga tidak akan memberikan susu tersebut kepada siapapun, sebelum keduanya.

Aku menunggu kedua orangtuaku sambil memegang tempat minuman tersebut sampai terbit fajar, meskipun anak-anakku merengek-rengek di bawah kedua kakiku karena lapar. Maka bangunlah mereka, dan kuberikan susu tersebut kepada keduanya. Ya Allah .... Jika aku berbuat seperti itu karena mengharap ridho-Mu, maka geserlah batu yang menutupi pintu gua ini." Maka bergeserlah batu itu sedikit. Akan tetapi mereka belum bisa keluar dari gua.

Kemudian orang yang kedua berkata, "Ya Allah .... Sesungguhnya aku mempunyai saudara sepupu yang sangat aku cintai. Aku ingin berbuat zina dengannya. Tapi ia selalu menolak. Hingga suatu saat, ia tertimpa kesulitan, dia datang kepadaku meminta bantuan. Maka aku berikan kepadanya 120 dinar (dinar adalah mata uang jaman dulu yang terbuat daru emas), tetapi dengan janji ia mau menyerahkan dirinya kepadaku. Ketika aku siap menzinainya, tiba-tiba ia berkata, "Takutlah kamu kepada Allah, dan jangan kamu buka cincin (menzinai) kecuali dengan jalan yang benar (pernikahan)." Maka akupun meninggalkannya, padahal aku sangat mencintainya. Dan aku meninggalkan dinar yang telah aku berikan tersebut. Ya Allah ... jika aku melakukan hal itu karena mengharap ridho-Mu, maka geserlah batu yang menutupi pintu gua ini." Maka bergeserlah batu itu, tetapi mereka tetap belum bisa keluar dari gua itu.

Orang yang ketiga berkata, "Ya Allah, aku memperkerjakan beberapa orang karyawan, dan semuanya kugaji, kecuali satu orang dari mereka yang tidak sabar menunggu. Ia pergi dan tidak kembali mengambil upahnya. Maka aku kembangkan gaji karyawan tersebut, sehingga menjadi banyak. Setelah beberapa lama ia datang kembali kepadaku dan berkata, "Wahai hamba Allah, berilah upahku yang dulu.'Aku menjawab, 'Semua kekayaan yang dihadapanmu berupa unta, sapi, kambing, serta budak pengembala itu semua adalah gajimu.' Ia berkata, 'Wahai Hamba Allah, kamu jangan mempermainkan aku.' Aku menjawab, 'Aku tidak mempermainkanmu.' Maka diambilnya semua yang aku sebutkan itu, dan tidak meninggalkannya sedikitpun. Ya Allah .... Jika aku berbuat seperti itu karena mengharapkan keridhoan-Mu, maka geserlah batu yang menutupi pintu gua ini."

Akhirnya bergeserlah batu tersebut, sehingga mereka semua dapat berjalan keluar dari dalam gua (dengan selamat).

(Sumber: Hadits 'Abdullah bin 'Umar, riwayat Al-Bukhori No. 2102 dan Muslim No. 2743)